Monday, May 7, 2012

My Story

Page -3-
Aku selalu ingin bisa sama sepertinya, jago dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Saat ini, seakan pikiranku hanya tertuju padanya. Aku ingat lagi bahwa dulu saat kami masih kelas 7, saat mata pelajaran Bahasa Indonesia sedang membahas tentang pantun, ia pernah membuat sebuah pantun yang hingga kini aku tetap mengingatnya.
Pergi ke Jogja berburu keris
Keris dipakai membunuh hiu
Jika kamu mengerti Bahasa Inggris
Apa arti kata: I love you?
Saat bel pulang sekolah berbunyi, kami bertiga ¾ aku, Christya, dan Aisha, teman sekelasku kompak beranjak dari tempat duduk untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, cheerleading.
Aku pulang kira-kira pukul 16.30. Tyok sudah tidak berputar-putar lagi di otakku. Ya, aku memanggil Radityo dengan panggilan Tyok karena itu terdengar lebih pendek. Dipikiran hanya terlintas aku ingin segera pulang ke rumah. Sangat kesal aku salah memilih angkota nomor 5. Aku memasuki angkota yang sudah penuh sesak. Mau tak mau aku harus duduk berdesak-desakan. Aku tak sadar ketika angkota yang ku naiki berhenti dan menaikkan seorang penumpang lagi. Setelah ku sadari, ternyata aku mengenal laki-laki itu. Tyok. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami di angkota nomor 5 lagi. Langsung saja aku beri senyum termanisku kepadanya walaupun menurutku senyumku itu sama sekali tidak manis.
“Pulang sore lagi?”
“Iya, tadi latihan cheers dulu.”
“Oh. Hmm kok bisa ya kita ketemu lagi di angkota nomor 5?”
“Hahaha aku juga tidak tahu.”
“Wah sepertinya kita jodoh ya.”
“Ha?” Rasanya telingaku ingin mendengar kata-kata itu lagi.
Walaupun kami berada dalam angkota yang sangat penuh sesak, tapi kami masih tetap bisa mengobrol. Dia bercerita tentang lomba rubik yang akan di ikutinya. Tentu saja aku ingat bahwa ia sering mengikuti lomba rubik seperti itu. Aku ingat ketika kami masih kelas 9, ia pernah mengikuti lomba rubik di Bandung. Saat Tyok di antar ke terminal bus oleh orangtua dan adiknya, ia mengirimkan pesan singkat kepadaku: ‘Seandainya kamu bisa ikut mengantarku ke terminal bus.’ Saat aku membacanya, aku juga sangat ingin berada di terminal bus itu. Namun, aku hanya bisa membalas pesannya dengan persaan sedih: ‘Hati-hati ya. Kamu pasti bisa. Good luck.’
“Kamu datang ya ke lomba besok.” Suaranya mengagetkanku.
“Dimana? Kapan sih? Kalau aku bisa, pasti aku datang.”
“Besok jam 16.00 di Balairung UKSW. Datang ya.”
“Oke.”
Keesokan harinya wajahku sangat muram setelah aku ketahui bahwa sepulang sekolah aku harus mengikuti latihan cheers lagi. Padahal aku sudah berjanji untuk datang ke Balairung UKSW.
Pukul 16.10 aku masih bersama tim Squad of Smanssa, tim cheers sekolahku. Ku lirik jam tanganku ternyata aku sudah terlambat. Aku langsung berlari dan meninggalkan teman-temanku. Aku terus berlari menuju Balairung UKSW tanpa memikirkan kelelahanku. Mataku terus berputar mencari dimana ia berada. Mataku berhenti pada laki-laki tampan yang mengenakan kaos bergambar tokoh kartun Patrick. Dia Tyok. Ia tersenyum ketika melihatku sudah berdiri di gedung ini.
 Ketika ia telah selesai, ia menghampiriku dan mengucapkan terima kasihnya atas kedatanganku. Sebelum pulang, Tyok menwarkan makan malam, dan ia janji akan mentraktirku. Aku menikmati suasana itu. Suasana romantis yang sejak dulu aku menginginkannya. Duduk berdua dengannya bercerita semua tentang kita. Kurasa aku jatuh cinta lagi dengannya. Mengapa aku pernah memutuskan hubungan kami? Aku sangat menyesalinya sekarang. Aku benar-benar mencintainya. Namun apakah dia juga menyimpan rasa yang sama sepertiku?
Dalam makan malam itu, ia banyak bertanya bagaimana perasaan seorang gadis terhadap lawan jenisnya. Tyok bertanya bagaimana sikap seorang gadis apabila ia mendekatinya. Ia juga bertanya tentang apa saja yang disenangi seorang gadis. Yang membuatku terkejut, ia juga bertanya apa yang disenangi seorang gadis dari seorang laki-laki.
Mungkinkah aku yang ia maksud? Ah hanya mimpi kalau wanita yang ia maksud adalah aku. Aku terlalu percaya diri. Namun aku sangat berharap gadis itu adalah aku.  Aku pun pulang dengan hati yang gembira, tapi penuh rasa penasaran.
Hari demi hari aku semakin lebih dekat dengannya. Terasa dunia hanya milik kami berdua. Aku suka cara dia bermain gitar. Aku suka cara dia berkata-kata. Aku suka cara dia menghargai seorang gadis. Aku suka semua hal tentangnya. Saat ia berada di rumahku, ia memainkan salah satu lagu dari Paramore dengan gitar favoritnya. Aku sangat suka permainan melodinya. Aku merasa semakin mencintainya.
Tiba-tiba ia menyanyikan sebuah lagu:
Sudah  katakan cinta
Sudah ku bilang sayang
Namun kau hanya diam
Tersenyum kepadaku
Kau buat aku bimbang
Kau buat aku gelisah
Ingin rasanya kau jadi milikku
Jantungku seakan berhenti berdetak. Apakah di benar-benar tulus menyanyikannya untukku? Atau aku hanya bermimpi? Nyatanya ia benar-benar sedang duduk disampingku memegang gitarnya. Ingin aku mendengar lagi ia menyanyikannya. Jika ia sedang tidak bercanda menyanyikannya, entah apa yang akan aku lakukan. Aku terlalu bahagia bila aku menjadi kekasih hatinya. Dia terlalu sempurna untukku. Walaupun aku tahu tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

No comments:

Post a Comment