Page -3-
Aku
selalu ingin bisa sama sepertinya, jago dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
Saat ini, seakan pikiranku hanya tertuju padanya. Aku ingat lagi bahwa dulu
saat kami masih kelas 7, saat mata pelajaran Bahasa Indonesia sedang membahas
tentang pantun, ia pernah membuat sebuah pantun yang hingga kini aku tetap
mengingatnya.
Pergi ke Jogja berburu keris
Keris dipakai membunuh hiu
Jika kamu mengerti Bahasa Inggris
Apa arti kata: I love you?
Saat
bel pulang sekolah berbunyi, kami bertiga ¾
aku, Christya, dan Aisha, teman sekelasku kompak beranjak dari tempat duduk
untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, cheerleading.
Aku
pulang kira-kira pukul 16.30. Tyok sudah tidak berputar-putar lagi di otakku.
Ya, aku memanggil Radityo dengan panggilan Tyok karena itu terdengar lebih pendek.
Dipikiran hanya terlintas aku ingin segera pulang ke rumah. Sangat kesal aku
salah memilih angkota nomor 5. Aku memasuki angkota yang sudah penuh sesak. Mau
tak mau aku harus duduk berdesak-desakan. Aku tak sadar ketika angkota yang ku
naiki berhenti dan menaikkan seorang penumpang lagi. Setelah ku sadari,
ternyata aku mengenal laki-laki itu. Tyok. Terima kasih Tuhan, Engkau telah
mempertemukan kami di angkota nomor 5 lagi. Langsung saja aku beri senyum
termanisku kepadanya walaupun menurutku senyumku itu sama sekali tidak manis.
“Pulang
sore lagi?”
“Iya,
tadi latihan cheers dulu.”
“Oh.
Hmm kok bisa ya kita ketemu lagi di angkota nomor 5?”
“Hahaha
aku juga tidak tahu.”
“Wah
sepertinya kita jodoh ya.”
“Ha?”
Rasanya telingaku ingin mendengar kata-kata itu lagi.
Walaupun
kami berada dalam angkota yang sangat penuh sesak, tapi kami masih tetap bisa
mengobrol. Dia bercerita tentang lomba rubik yang akan di ikutinya. Tentu saja
aku ingat bahwa ia sering mengikuti lomba rubik seperti itu. Aku ingat ketika
kami masih kelas 9, ia pernah mengikuti lomba rubik di Bandung. Saat Tyok di
antar ke terminal bus oleh orangtua dan adiknya, ia mengirimkan pesan singkat
kepadaku: ‘Seandainya kamu bisa ikut mengantarku ke terminal bus.’ Saat aku
membacanya, aku juga sangat ingin berada di terminal bus itu. Namun, aku hanya
bisa membalas pesannya dengan persaan sedih: ‘Hati-hati ya. Kamu pasti bisa.
Good luck.’
“Kamu
datang ya ke lomba besok.” Suaranya mengagetkanku.
“Dimana?
Kapan sih? Kalau aku bisa, pasti aku datang.”
“Besok
jam 16.00 di Balairung UKSW. Datang ya.”
“Oke.”
Keesokan
harinya wajahku sangat muram setelah aku ketahui bahwa sepulang sekolah aku
harus mengikuti latihan cheers lagi. Padahal aku sudah berjanji untuk datang ke
Balairung UKSW.
Pukul
16.10 aku masih bersama tim Squad of Smanssa, tim cheers sekolahku. Ku lirik
jam tanganku ternyata aku sudah terlambat. Aku langsung berlari dan
meninggalkan teman-temanku. Aku terus berlari menuju Balairung UKSW tanpa
memikirkan kelelahanku. Mataku terus berputar mencari dimana ia berada. Mataku
berhenti pada laki-laki tampan yang mengenakan kaos bergambar tokoh kartun
Patrick. Dia Tyok. Ia tersenyum ketika melihatku sudah berdiri di gedung ini.
Ketika ia telah selesai, ia menghampiriku dan
mengucapkan terima kasihnya atas kedatanganku. Sebelum pulang, Tyok menwarkan
makan malam, dan ia janji akan mentraktirku. Aku menikmati suasana itu. Suasana
romantis yang sejak dulu aku menginginkannya. Duduk berdua dengannya bercerita
semua tentang kita. Kurasa aku jatuh cinta lagi dengannya. Mengapa aku pernah
memutuskan hubungan kami? Aku sangat menyesalinya sekarang. Aku benar-benar
mencintainya. Namun apakah dia juga menyimpan rasa yang sama sepertiku?
Dalam
makan malam itu, ia banyak bertanya bagaimana perasaan seorang gadis terhadap
lawan jenisnya. Tyok bertanya bagaimana sikap seorang gadis apabila ia
mendekatinya. Ia juga bertanya tentang apa saja yang disenangi seorang gadis. Yang
membuatku terkejut, ia juga bertanya apa yang disenangi seorang gadis dari
seorang laki-laki.
Mungkinkah
aku yang ia maksud? Ah hanya mimpi kalau wanita yang ia maksud adalah aku. Aku
terlalu percaya diri. Namun aku sangat berharap gadis itu adalah aku. Aku pun pulang dengan hati yang gembira, tapi
penuh rasa penasaran.
Hari
demi hari aku semakin lebih dekat dengannya. Terasa dunia hanya milik kami
berdua. Aku suka cara dia bermain gitar. Aku suka cara dia berkata-kata. Aku
suka cara dia menghargai seorang gadis. Aku suka semua hal tentangnya. Saat ia
berada di rumahku, ia memainkan salah satu lagu dari Paramore dengan gitar
favoritnya. Aku sangat suka permainan melodinya. Aku merasa semakin
mencintainya.
Tiba-tiba
ia menyanyikan sebuah lagu:
Sudah katakan cinta
Sudah ku bilang sayang
Namun kau hanya diam
Tersenyum kepadaku
Kau buat aku bimbang
Kau buat aku gelisah
Ingin rasanya kau jadi milikku
Jantungku
seakan berhenti berdetak. Apakah di benar-benar tulus menyanyikannya untukku?
Atau aku hanya bermimpi? Nyatanya ia benar-benar sedang duduk disampingku
memegang gitarnya. Ingin aku mendengar lagi ia menyanyikannya. Jika ia sedang
tidak bercanda menyanyikannya, entah apa yang akan aku lakukan. Aku terlalu
bahagia bila aku menjadi kekasih hatinya. Dia terlalu sempurna untukku.
Walaupun aku tahu tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
No comments:
Post a Comment