Page -2-
Aku
sangat menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya berada satu kelas dengan
aku di kelas 7C SMP Negeri 1 Salatiga. Hatiku berdegup sangat kencang ketika
aku kembali tersadar bahwa ia duduk di sampingku. Tepatnya di sebelah
kiriku. Ku tutupi detak jantungku dengan
tas ransel coklatku agar tak terlihat olehnya detak jantungku yang berdegup
sangat kencang. Aku hanya diam terpaku.
“Baru
pulang?” tanyanya singkat membuat tenggorokanku terasa kering sehingga sulit
untuk bicara. Entah apa maksudnya bertanya seperti itu. Hanya basa-basi saja
atau memang dia benar-benar ingin tahu.
“Hm..
Oh aku baru saja mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Jadi baru bisa
pulang.” Jawabku gugup. Otakku terus mencari pertanyaan apa yang akan
kutanyakan padanya. Aku tak mungkin menanyakan pertanyaan yang sama padanya
karena aku tahu kini ia bersekolah di sekolah yang setiap harinya belajar lebih
dari delapan jam pelajaran. Ia selalu pulang kira-kira pukul 15.00 tapi hari
Sabtu diliburkan sehingga ia selalu pulang sore hari. Namun tiba-tiba suaranya
yang terdengar sangat cool
menghentikan aktivitas otakku yang sedang mencari pertanyaan.
“Ikut
bimbingan belajar apa emang? “
“Kimia.”
“Wah
berarti masuk jurusan IPA dong.”
“Maunya
sih gitu. Tapi lihat nilai-nilai aja, emang bisa atau engga. Tumben naik nomor
5?”, suaraku sudah tidak terdengar gugup. Mungkin ia melihat wajah keherananku
karena di tahu bahwa aku ingat dia selalu naik angkota nomor 10 apabila pulang
ke rumah. Dia memasang sedikit senyum manis dibibirnya yang membuatnya semakin
terlihat tampan.
“Iya,
emang sekarang aku lebih sering naik angkota nomor 5.”
“Oh.”
Di
dalam hati aku bertanya ‘mengapa baru bertemu sekarang?’ Namun tak ada gunanya
bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Suasana hening. Kami tak saling
berpandangan dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku
tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Duduk di dalam angkota yang sama dengan
seorang yang sangat aku sukai sejak aku duduk di bangku sekolah menengah
pertama dan mungkin saat ini pun aku masih menyukainya. Walaupun sedikit.
“Ikut
Olimpiade Astronomi ya?”, pertanyaan yang hanya basa-basi saja karena
sebenarnya aku tahu bahwa ia mengikuti olimpiade tersebut.
“Iya.”
“Gimana
pengumumannya?”
“Engga
tahu. Hehehe”
“Lho.”
“Hahaha
emang engga tahu, yang penting pengalamannya lah. Hmm… turun di Asia ya?”
“Iya.
Kamu turun di PDI ya?”
“Hm
…”
Mengapa
angkota ini berjalan sangat cepat? Padahal aku ingin berada di dalam angkota
lebih lama bersamanya.
“Aku
duluan ya.” Kataku terlihat kecewa.
Rasanya
aku tak ingin beranjak dari tempat dudukku sekarang. Tak ingin ku ucapkan
kata-kata itu. Tapi aku harus turun.
Tak
kusadari aku berjalan menuju rumah dengan memasang senyumku yang tidak manis
sedikitpun. Aku senang bisa mengobrol dengannya lagi. Aku membuka pintu rumah
yang masih terkunci sambil mencari ponsel disaku bajuku. Ku lihat layar ponsel
hitam abu-abu itu, tapi tak ada pesan satupun. Ingin rasanya aku mengirimkan
pesan singkat kepadanya, tapi entah mengapa rasa gengsiku terlalu besar. Aku
meninggalkan ponsel di atas meja belajar yang berada di kamarku. Cepat-cepat aku membersihkan
badan, makan, dan bersiap untuk tidur karena kau merasa lelah hari ini. Aku
lemparkan tubuhku di atas tempat tidur dan saat ku lihat layar ponselku
tertulis nama Radityo. Ya, lelaki yang aku sukai sejak sekolah menengah pertama
itu. Radityo Yunus Utomo Wicaksono. Entah karena apa, aku selalu ingat nama
yang panjang itu. Tak sadar aku tersenyum lebar dan wajahku yang tadinya muram
kini terlihat lebih ceria. Di dalam pesan singkatnya ia menuliskan : ‘Aku
enggak sombong kan’. Ah… membahagiakan.
Tubuhku
sejak tadi sudah berada dalam posisi tidur. Namun setiap aku berusaha
memejamkan mata, selalu senyum manisnya yang terlintas di bayanganku. Wajah
tampannya akan semakin terlihat tampan apabila ia tersenyum. Andai aku bisa
menikmati senyum itu setiap hari. Itu hanya mimpi bagiku.
Saat
ku buka mataku, ternyata tanganku masih memegang ponsel. Ku lihat layar ponsel
lagi. Aku tak ingin tersenyum. Tidak ada balasan pesan singkat darinya setelah
aku mengirimkan pesanku kepadanya. Rasanya aku ingin meneleponnya, tapi apa
daya lagi-lagi gengsiku terlalu besar. Lagipula aku tidak memiliki cukup banyak
pulsa untuk meneleponnya. Maklum saja, aku bukan dari keluarga yang
berkelebihan. Tepatnya keluarga yang sangat sederhana. Walaupun terkadang tidak
semua kebutuhanku dapat terpenuhi, tapi aku sudah merasa cukup. Aku merasa
sangat cukup. Ayah dan ibu yang bekerja sebagai guru. Dan kakak adik yang
jarang terlihat bertengkar, itu membuatku merasa cukup. Cukup bahagia.
Setelah
doa pagi, aku beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktivitasku hari ini.
Hari Selasa. Aku tidak terlalu suka dengan hari ini. Tentunya karena ada mata
pelajaran Bahasa Inggris. Entah mengapa aku tidak terlalu suka dengan pelajaran
Bahasa Inggris. Ah mungkin karena nilai-nilaiku di mata pelajaran ini tidak
terlalu baik.
Pukul 07.00 pelajaran Bahasa Inggris dimulai.
Ragaku duduk di barisan kursi paling belakang, seperti biasanya Christya duduk
di samping kananku. Namun, pikiranku sedang tak bersama ragaku. Pikiranku terus
berjalan ke arahnya. Ke arah laki-laki itu. Mengapa aku selalu ingat hal-hal
kecil tentangnya. Aku begitu kagum ketika aku tahu laki-laki yang membuat
jantungku selalu berdegup kencang apabila aku duduk dekat dengannya itu
menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris. Nilai-nilanya membuatku sangat kagum.
Berbalik 180 derajat dengan aku.
No comments:
Post a Comment