Monday, May 7, 2012

My Story

Page -2-
Aku sangat menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya berada satu kelas dengan aku di kelas 7C SMP Negeri 1 Salatiga. Hatiku berdegup sangat kencang ketika aku kembali tersadar bahwa ia duduk di sampingku. Tepatnya di sebelah kiriku.  Ku tutupi detak jantungku dengan tas ransel coklatku agar tak terlihat olehnya detak jantungku yang berdegup sangat kencang. Aku hanya diam terpaku.
“Baru pulang?” tanyanya singkat membuat tenggorokanku terasa kering sehingga sulit untuk bicara. Entah apa maksudnya bertanya seperti itu. Hanya basa-basi saja atau memang dia benar-benar ingin tahu.
“Hm.. Oh aku baru saja mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Jadi baru bisa pulang.” Jawabku gugup. Otakku terus mencari pertanyaan apa yang akan kutanyakan padanya. Aku tak mungkin menanyakan pertanyaan yang sama padanya karena aku tahu kini ia bersekolah di sekolah yang setiap harinya belajar lebih dari delapan jam pelajaran. Ia selalu pulang kira-kira pukul 15.00 tapi hari Sabtu diliburkan sehingga ia selalu pulang sore hari. Namun tiba-tiba suaranya yang terdengar sangat cool menghentikan aktivitas otakku yang sedang mencari pertanyaan.
“Ikut bimbingan belajar apa emang? “
“Kimia.”
“Wah berarti masuk jurusan IPA dong.”
“Maunya sih gitu. Tapi lihat nilai-nilai aja, emang bisa atau engga. Tumben naik nomor 5?”, suaraku sudah tidak terdengar gugup. Mungkin ia melihat wajah keherananku karena di tahu bahwa aku ingat dia selalu naik angkota nomor 10 apabila pulang ke rumah. Dia memasang sedikit senyum manis dibibirnya yang membuatnya semakin terlihat tampan.
“Iya, emang sekarang aku lebih sering naik angkota nomor 5.”
“Oh.”
Di dalam hati aku bertanya ‘mengapa baru bertemu sekarang?’ Namun tak ada gunanya bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Suasana hening. Kami tak saling berpandangan dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Duduk di dalam angkota yang sama dengan seorang yang sangat aku sukai sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan mungkin saat ini pun aku masih menyukainya. Walaupun sedikit.
“Ikut Olimpiade Astronomi ya?”, pertanyaan yang hanya basa-basi saja karena sebenarnya aku tahu bahwa ia mengikuti olimpiade tersebut.
“Iya.”
“Gimana pengumumannya?”
“Engga tahu. Hehehe”
“Lho.”
“Hahaha emang engga tahu, yang penting pengalamannya lah. Hmm… turun di Asia ya?”
“Iya. Kamu turun di PDI ya?”
“Hm …”
Mengapa angkota ini berjalan sangat cepat? Padahal aku ingin berada di dalam angkota lebih lama bersamanya.
“Aku duluan ya.” Kataku terlihat kecewa.
Rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat dudukku sekarang. Tak ingin ku ucapkan kata-kata itu. Tapi aku harus turun.
Tak kusadari aku berjalan menuju rumah dengan memasang senyumku yang tidak manis sedikitpun. Aku senang bisa mengobrol dengannya lagi. Aku membuka pintu rumah yang masih terkunci sambil mencari ponsel disaku bajuku. Ku lihat layar ponsel hitam abu-abu itu, tapi tak ada pesan satupun. Ingin rasanya aku mengirimkan pesan singkat kepadanya, tapi entah mengapa rasa gengsiku terlalu besar. Aku meninggalkan ponsel di atas meja belajar yang berada  di kamarku. Cepat-cepat aku membersihkan badan, makan, dan bersiap untuk tidur karena kau merasa lelah hari ini. Aku lemparkan tubuhku di atas tempat tidur dan saat ku lihat layar ponselku tertulis nama Radityo. Ya, lelaki yang aku sukai sejak sekolah menengah pertama itu. Radityo Yunus Utomo Wicaksono. Entah karena apa, aku selalu ingat nama yang panjang itu. Tak sadar aku tersenyum lebar dan wajahku yang tadinya muram kini terlihat lebih ceria. Di dalam pesan singkatnya ia menuliskan : ‘Aku enggak sombong kan’. Ah… membahagiakan.
Tubuhku sejak tadi sudah berada dalam posisi tidur. Namun setiap aku berusaha memejamkan mata, selalu senyum manisnya yang terlintas di bayanganku. Wajah tampannya akan semakin terlihat tampan apabila ia tersenyum. Andai aku bisa menikmati senyum itu setiap hari. Itu hanya mimpi bagiku.
Saat ku buka mataku, ternyata tanganku masih memegang ponsel. Ku lihat layar ponsel lagi. Aku tak ingin tersenyum. Tidak ada balasan pesan singkat darinya setelah aku mengirimkan pesanku kepadanya. Rasanya aku ingin meneleponnya, tapi apa daya lagi-lagi gengsiku terlalu besar. Lagipula aku tidak memiliki cukup banyak pulsa untuk meneleponnya. Maklum saja, aku bukan dari keluarga yang berkelebihan. Tepatnya keluarga yang sangat sederhana. Walaupun terkadang tidak semua kebutuhanku dapat terpenuhi, tapi aku sudah merasa cukup. Aku merasa sangat cukup. Ayah dan ibu yang bekerja sebagai guru. Dan kakak adik yang jarang terlihat bertengkar, itu membuatku merasa cukup. Cukup bahagia.
Setelah doa pagi, aku beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktivitasku hari ini. Hari Selasa. Aku tidak terlalu suka dengan hari ini. Tentunya karena ada mata pelajaran Bahasa Inggris. Entah mengapa aku tidak terlalu suka dengan pelajaran Bahasa Inggris. Ah mungkin karena nilai-nilaiku di mata pelajaran ini tidak terlalu baik.
Pukul 07.00 pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Ragaku duduk di barisan kursi paling belakang, seperti biasanya Christya duduk di samping kananku. Namun, pikiranku sedang tak bersama ragaku. Pikiranku terus berjalan ke arahnya. Ke arah laki-laki itu. Mengapa aku selalu ingat hal-hal kecil tentangnya. Aku begitu kagum ketika aku tahu laki-laki yang membuat jantungku selalu berdegup kencang apabila aku duduk dekat dengannya itu menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris. Nilai-nilanya membuatku sangat kagum. Berbalik 180 derajat dengan aku.

No comments:

Post a Comment