Page -4-
“Gimana
lagunya?”
“Ha?
Bagus kok?”
“Cocok
kan kalau buat nembak cewek?”
“Hmm..
Pasti. Apalagi permainan gitarmu sangat bagus.”
“Nanti
sore aku akan menyatakan cintaku pada Helga. Kamu sudah tahu orangnya kan?
Sewaktu kita berada di Balairung UKSW. Aku menunjukkan gadis yang memakai kaos
bergambar Spongebobs. Apa kau ingat?”
“Ya
aku ingat.”
Seketika
itu juga tubuhku lemas tak bertenaga. Selama ini aku salah. Bukan aku gadis
itu. Namun Helga. Mengapa aku baru sadar bahwa saat lomba itu, ia memakai kaos
bergambar tokoh kartun Patrick dan itu ada hubungannya dengan Helga yang
memakai kaos bergambar tokoh kartun Spongebobs. Betapa tololnya aku mencintai
orang yang mencintai orang lain.
“Apa
kau tidak apa-apa?” tanyanya padaku penuh heran karena ia melihat raut wajahku
yang tiba-tiba pucat.
“Ya
aku tak apa-apa.”
“Ah,
kau kan teman yang baik kan? Pasti kau mau membantuku menyiapkan kejutan nanti
sore?”
“Pastilah.
Aku akan membantumu.”
“Tolong
belikan mawar kuning sebatang saja dan satu boneka Spongebobs. Karena Helga
sangat menyukai tokoh kartun Spongebobs.”
“Oke.”
Tyok
cepat-cepat pulang dari rumahku. Mungkin ia ingin mempersiapkan diri. Mengapa
tubuhku masih tak bertenaga. Tak sadar air mataku menetes. Tak bisa aku
menahannya. Aku ingin berteriak. Aku kesal mengapa aku terlalu berharap bahwa
Tyok juga mencintai aku? Aku bodoh. Aku tak berpikir bahwa aku tidak pantas
untuk mencintainya. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku hanya bisa
terdiam. Kira-kira satu jam aku hanya duduk dan menangis. Menyesali perasaanku
sendiri. Perasaan yang tak berarti lagi. Namun, aku sudah berjanji kepadanya
untuk membantunya menyiapkan rencananya itu. Aku berdiri dan berjalan ke toko
bunga. Aku melihat sebatang bunga mawar kuning yang terpajang di etalase toko
bunga itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung membelinya. Kemudian aku pergi ke
toko boneka di seberang jalan toko bunga. Aku membeli boneka sesuai perintah
Tyok.
Semua
telah siap. Tinggal menunggu kedatangan Helga. Helga datang dan Tyok langsung
menyanyikan lagu:
Sudah katakan cinta
Sudah ku bilang sayang
Namun kau hanya diam
Tersenyum kepadaku
Kau buat aku bimbang
Kau buat aku gelisah
Ingin rasanya kau jadi milikku
“Apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan
pacarku?” Kata-kata itu terucap dari bibir Tyok dengan lancar dan tegas.
Mungkin ia sudah berlatih di depan cermin untuk berbicara kepada Helga sehingga
tidak terlihat gugup.
“Apabila
aku boleh memanggilmu dengan sebutan pacarku, ambilah boneka Spongebobs ini. Namun,
apabila aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan pacarku, ambilah bunga mawar
kuning ini.”
Ya
memang benar, aku mendengarnya menyanyikan lagu itu lagi. Namun, ia
menyanyikannya untuk gadis yang benar-benar ia cintai. Bukan aku. Helga gadis
yang beruntung. Pasti saja dia menerima permintaan Tyok untuk menjadi kekasih
hatinya.
“Aku
ambil boneka ini ya.” Helga menjawab dengan yakin.
Seharusnya
aku juga bahagia melihat orang yang aku cintai juga bahagia walaupun bersama
orang lain. Aku memang harus belajar tersenyum melihat mereka bahagia. Air
mataku tak terbendung lagi. aku menangis di tempat itu. Saat Tyok melihatku
menangis, ia menghampiriku. Aku memeluknya erat.
“Kau
kenapa?”
“Aku
bahagia.”
“Terima
kasih kau mau membantuku.”
“Tentu
saja aku mau.”
Aku
tak ingin melepas pelukan ini. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tyok
sudah bersama Helga.
Aku
membuka buku catatan harianku. Aku menyelipkan foto yang aku ambil secara
diam-diam, fotonya saat sedang bermain gitar dan aku menuliskan dibelakang foto
itu:
I love you more than any word can
say
I love you more than every action I
take
I will be right here loving you
till the end
No comments:
Post a Comment